Bahan Bakar Ribut (BBR)

Kamis, September 17

Sudah bukan rahasia umum kalau (kebanyakan) sinetron Indonesia itu stereotype; asal rame dan ga mendidik. Untungnya saya punya alternatif lain yang lebih mendidik, yaitu: ga nonton sinetron Indonesia! He he he… tapi saya ga berniat cerita soal sinetron Indonesia yang walaupun ganteng tapi serigala.

Saya mau cerita satu film dokumenter buatan National Geographic yang pas saya tonton, sedang membahas tentang energi terbarukan. Energi terbarukan ini maksudnya energi alternatif yang bukan berasal atau bukan dihasilkan menggunakan minyak bumi ataupun batu bara (bahan bakar fosil). Seperti kita tahu -atau kalau ada yang belum tahu, pura-pura tahulah- persediaan minyak bumi di seluruh dunia sudah menipis. Ada yang bilang tinggal 30 Tahun, 50 tahun lagi, atau sedikit lebih lama dari itu. Itupun masih tergantung dari pemakaian BBM saat ini. Berhemat atau justru makin boros. Mumpung masih disubsidi toh? Begitu pikir kita…

Energi ramah lingkungan yang memadai saat ini memang listrik. Tapi pembangkitnya kebanyakan masih menggunakan BBM. Ada juga tenaga pembangkitnya menggunakan panas bumi, uap, angin, gelombang laut, tapi dirasa masih belum maksimal. Tenaga nuklir sangat menjanjikan dan murah, tapi ga ramah lingkungan dan berbahaya. Label ramah lingkungan ini juga penting dan harus dimiliki antara lain supaya lapisan atmosfer bumi (ozon) yang menipis akibat polusi BBM, tidak bertambah luas atau bahkan benar-benar melubangi ozon. Kalau ozon sampai bolong, tinggal menunggu waktu ubun-ubun kita juga bolong akibat kepanasan dan radiasi sinar UV matahari.

Nah, kembali pada penemuan-penemuan ataupun inovasi-inovasi baru cara menghasilkan energi (listrik) tadi, sungguh luar biasa dan cukup memberi harapan. Penghasil energi macam-macam dan aneh-aneh. Ada yang dari algae hijau, suhu tubuh, gerak, dan lain-lain. Energi yang didapat kebanyakan diubah menjadi energi listrik, tapi ide cara mendapatkan energi listrik tersebut yang menarik. Saya melihat ada kesamaan di antara ide-ide tersebut. Yaitu menggunakan energi sisa atau buangan atau recycle energi. Sumber penghasilnya adalah manusia itu sendiri. Sebagai contoh, ada seorang remaja perempuan yang berhasil membuat senter yang listriknya dihasilkan dari panas tubuh manusia. Jadi tiap kali kita pegang senter, ia otomatis menyala tanpa harus ada batere di dalamnya. Ada juga yang menciptakan alat penghasil listrik dari perbedaan suhu panas dan dingin. Kebayang ga?

Dari penemuan-penemuan tadi, ada satu yang menginspirasi saya, yaitu bola sepak yang sekaligus bisa menjadi semacam batere. Di dalam bola tadi ada semacam converter yang berfungsi mengubah energi kinetik menjadi energi listrik yang kemudian ditampung dalam batere isi ulang yang juga ada di dalam bola tadi. Dan teknologi ini sudah dipakai antara lain di daerah-daerah di Afrika yang belum mendapat listrik. Jadi, pada pagi atau siang hari, bola tadi dipakai bermain oleh anak-anak dan sore atau malamnya bola tadi menjadi sumber tenaga buat lampu led yang menerangi waktu belajar mereka, bahkan bisa untuk me-recharge handphone. 1 jam dipakai bermain, cukup untuk menghasilkan listrik untuk 3 jam. Teknologinya terjangkau, energinya gratis dan swadaya, kegembiraan bertambah, edukasi bisa ditempuh hingga malam hari. Luar biasa, toh!

Di Indonesia, perangkat teknologi ini pun pasti berguna sekali karena masih banyak, terlalu banyak bahkan, daerah yang belum mendapat listrik ataupun pasokan yang cukup. Tapi saya membayangkan kalau saja alat tersebut tidak hanya mengkonversi energi kinetik dari anak-anak yang bermain bola tapi bisa juga mengkonversi misalnya dari pak tani yang mencangkul atau kerbau yang membajak sawah, petani karet yang harus menyadap sekian hektar kebun karet, pekerja kebun teh dan kopi, penambang kapur dan belerang yang menyabung nyawa dengan upah minim, tukang becak, dan pekerja keras lainnya di negeri ini.

Lebih inovatif lagi, bagi ibu-ibu yang selesai bekerja, mengaso di depan rumah dengan tetangganya, sambil saling mencari kutu dan uban, rumpiannya bisa dikonversi jadi energi. Bagi para wakil rakyat yang sangat mempedulikan nasib (=baca: uang) rakyat, yang doyan bergurau sambil banting meja kursi dan ngumpetin palu sidang, sibuk ngobrolin partainya, tidur si(d)ang, dan lain-lain. Bayangkan kalau keriuhan ga penting itu bisa dikonversi jadi energi listrik gratis untuk rakyat. Pasti rakyat cukup terhibur. Listriknya bisa dipakai untuk menyalakan TV. Nonton mereka ribut…  he he he…

[+/-] Selengkapnya...

Ramai-Ramai Gagap Online

Kamis, September 10

Masih inget ya, lagunya Saykoji, “…online, online…”, yang pernah ngetop beberapa tahun lalu. Fenomena “serba online” di Indonesia saat ini memang makin terasa marak. Perkembangannya cepat sekali dan luas. Dari semua sektor, mungkin yang paling berpengaruh adalah sektor perdagangan dan jasa. Iklan online dengan berbagai bentuknya kini bisa disampaikan dengan sangat cepat, sangat luas, sangat murah. Selama ada jaringan internet di suatu daerah, maka orang bisa mendapati berbagai tawaran online; TV online, belanja online, jualan online, kuliah online, transaksi perbankan online, ngrumpi online, kenalan dan temanan online, bioskop online, game online, judi online, prostitusi online, dakwah online, khotbah online, petisi online, taxi online, ojek online, dst...

Kecepatan pertumbuhan pengguna internet ini juga ga terlepas dari perkembangan teknologi gadget. Banyaknya gadget murah meriah juga mendorong jumlah pengguna internet. Akses internet semakin gampang sehingga anak balita pun mengerti dan mampu menggunakan internet. Tau-tau kuota internet habis buat main game online atau nonton Youtube. He he he…

Sejalan dengan itu, berbagai aplikasi gadget berbayar dan gratis dengan berbagai inovasi teknologi yang menyertainya pun menjamur. Saking luas dan cepatnya, kitapun ga jarang tergagap-gagap, tergopoh-gopoh mengikutinya. Sebut aja fenomena ojek online. Ojeknya sendiri sudah lama ada. Tapi ketika ini menjadi meluas, ramai (dan terorganisasi atau tersistem) baik pengojek maupun pengguna jasa ojeknya, mereka (pengojek konvensional dan pemerintah), terperangah dan cukup gelagapan dalam merespon. Seakan diserang musuh secara tiba-tiba. Responnya, tentu saja beragam. Ada yang menganalisa dan beradaptasi, ada yang gelagapan panik, lari, menyerang balik, ataupun gagap pasrah menghadapi perubahan besar dan tiba-tiba seperti ini.

Ojek online atau Uber Taxi hanya merupakan 1-2 contoh. Sebelumnya kita terkaget-tergagap akan terungkapnya judi online, prostitusi online, ganja online, kampus online yang berujung ijazah palsu, ujian online, “dakwah” ISIS online, dst… Banyak yang tidak siap dengan dampak terbuka luasnya media online. Banyak juga yang sudah bersiaga dan siap memanfaatkannya, termasuk menyalahgunakannya. Siap ga siap, toh, arus ini tidak akan berhenti bahkan bisa saja bertambah deras.

Hal lain yang masih dan sedang tren adalah ngrumpi online (chatting), medsos semacam Facebook masih jadi primadona, toko jual beli online menjadi pilihan cuci mata (dan belanja) di sela-sela jam kerja kantor atau pas istirahat siang, dan tentunya games online (gamon). Ketika tempat penyewaan PS (Play station) mulai sepi penggemar, gamon justru sebaliknya. Gamon memang mengasyikkan dan bisa membuat lupa waktu. Lupa kerja, lupa belajar, lupa makan, dsb. Banyak tempat penyewaan gamon tetap ramai di jam sekolah. Ketika masuk ke dalam, isinya anak-anak sekolah. Sisi buruk lainnnya, ya bisa membuat kita kecanduan. Dalam beberapa kasus ekstrem, membuat penggunanya kehilangan orientasi antara fantasi dan realitas. Semoga kasus ekstrem ini tidak terjadi di Indonesia (khususnya). Kalau sampai terjadi, akan membuat banyak orang (termasuk orang tua anak penikmat gamon) terperangah, gelagapan, dan tergagap merespon lagi. Banyak orang akan menyalahkan ini-itu, menganalisa hal yang sudah telanjur terjadi, ataupun ramai-ramai mengambil langkah antisipasi yang sudah terlambat.

[+/-] Selengkapnya...

Aku Kalian Anggap, Ga Sih?

Kamis, September 3

Beberapa waktu lalu, dalam waktu yang berdekatan, saya dijadikan tempat curhat oleh 2 orang teman. Mereka datang dengan bongkahan-bongkahan rasa kesal dan gondok besar di leher yang untungnya tidak kasat mata. Setengah curhat, mata mereka berkaca-kaca menahan sedih, kecewa, kesal, marah. Campur-campur seperti sop buah maja. Pahit!

Inti curhatnya sama. Mereka merasa tidak dianggap alias disepelekan walaupun selama ini mereka banyak mengorbankan waktu, tenaga, perhatian (mungkin juga uang). Mereka juga merasa sudah dilecehkankan dan terluka oleh kata-kata orang-orang di komunitasnya. Semua berakibat kedua teman saya ini mutung alias ngambek dan mengambil langkah yang sama. Menjauhi komunitas yang telah melukai mereka.

Manusia memang sejatinya adalah makhluk sosial. Bahkan yang autis pun butuh perhatian dan berkomunikasi. Secara alami, setiap orang akan mencari orang lain atau suatu komunitas untuk bersosialisasi. Apalagi jaman sekarang. Dunia sosial di jagad maya sudah begitu riuh dan bisa menjembatani relasi antar manusia. Lewat dunia maya internet, manusia merasa makin terhubung satu sama lain, bisa selama 24 jam nonstop. Jangan heran (walaupun saya sendiri masih terheran-heran) jika melihat orang yang seakan ga bisa melepaskan pandangannya dari layar gadget. Tangannya pun selalu sibuk, bukan sibuk bekerja atau menggandeng tangan pacarnya, tapi sibuk ngetik gadget. Gadget pacarnya… he he he…

Dunia sosial yang dipenuhi oleh benang-benang relasi antar manusia bukan hanya (alat/sarana) penting bagi manusia (kita) tapi itu adalah kita sendiri (society). Sehingga penting dan perlu (bahkan harus) dijaga. Ketika benang itu dirusak atau putus maka akan berdampak pada kita/masyarakat, secara langsung ataupun tidak. Oleh karenanya kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat –apalagi di depan/ruang publik- (yang seringkali terlalu diagung-agungkan dan juga disalahgunakan), harus tetap memperhatikan etika. Karena walaupun kebebasan adalah hak pribadi, komunikasi bisa disampaikan dengan berbagai media, cara, dan diantar dengan niat baik namun targetnya adalah sama; kepada manusia (atau manusia-manusia) lain. Oleh karenanya, di atas itu semua, kemanusiaan dan martabat manusialah yang harus tetap dijunjung tinggi. Dengan berpegang pada prinsip itu, komunikasi, relasi, bisa tetap terjalin santun dan bermartabat. Karena hal itu yang membuat kita tetap menjadi manusia, yang diciptakan secitra dengan Dia.

[+/-] Selengkapnya...

SINAR JIWA (saduran bebas lagu The Beatles: INNERLIGHT)

Selasa, Agustus 18

Without going out of my door,
I can know all things of earth
Without looking out of my window
I could know the ways of heaven
The farther one travels, the less one knows
The less one really knows

Tanpa keluar dari pintu ,
Aku bisa tahu semua hal di bumi
Tanpa melihat keluar dari jendela
Aku bisa mengetahui jalan-jalan  surga
Sesuatu yang lebih jauh dari semua perjalanan
Sedikit orang yang tau
Semakin sedikit orang  yang benar-benar  menyadari


Without going out of your door
You can know all things on earth
Without looking out of your window
You could know the ways of heaven
The farther one travels, the less one knows
The less one really knows

Tanpa keluar dari pintu Anda
Anda dapat mengetahui segala sesuatu di bumi
Tanpa melihat keluar dari jendela
Anda bisa mengetahui cara surga
Sedikit orang yang tau
Semakin sedikit yang benar-benar  menyadari


Arrive without traveling,
see all without looking
Do all without doing


Tiba tanpa bepergian ,
 Menyaksikan  semua tanpa melihat
Mengerjakan  semua tanpa melakukan

[+/-] Selengkapnya...

BATU CINCIN DAN KEKASIH TOLOL

Sabtu, Agustus 1

[+/-] Selengkapnya...

" K L I K "

Rabu, Juli 29

Kata "klik" sungguh populer dan ajaib. Ada di kamus nggak ya? Rangkaian huruf yang membentuk satu kata untuk menjelaskan suatu bunyi. Asalnya dari bunyi jari tekan tus keyboard komputer atau jari tekan tombol.

Emang bener bunyinya "klik?"

Tapi memang kini bukan soal bunyi lagi. Klik sudah jadi kata, istilah, bahkan idiom dengan arti sangat luas. Sering Anda disuruh "klik di sini" untuk mengakses link (jaringan internet) pada kebutuhan mengakses. Jika anda menggunakan keyboard non layar sentuh (keyboard konvensional) bunyinya : "tek, tek, tek, tek....."  tapi tetap istilahnya "klik" sama halnya gunakan layar sentuh malah bisa variatif bunyi sentuhan jari atau di-silent tetap saja istilahnya "klik." Bahkan dahsyatnya Anda bisa klik dengan lambaian tangan, perintah suara atau gerakan mata pada layar untuk klik saat akses internet. Bukan main!

Untuk meluncurkan peluru kendali berisi bom nuklir bisa dilakukan dengan "klik". Dengan klik "kiamat" bisa diundang. Luar biasa dan bisa luar binasa.

Orang indonesia bilang "dor!" menyebut bunyi tembakan. Orang inggris bilang "bang!" Kita banting pintu "gubraak!" atau "jeger!" Orang ingris bilang "slam!"... gelegar ledakan tetep kata inggrisnya "bang!"  Lucu sih enggak, aneh aja.

Hebat memang pengaruh internet dalam kehidupan. Dalam tanda kutip internet bahkan dibenarkan dan dimaklumi ketika "merusak" tata bahasa. Misalnya kata perintah untuk mengakses harus menggunakan huruf kecil ya nggak bisa ditawar: meski nulis huruf pertama nama orang menurut tata bahasa mesti gunakan huruf besar (kapital).

Di media-media sosial tata bahasa berkompromi dengan tuntutan teknologi internet. Khususnya hal-hal yang nggak resmi, coba Anda amati cara penulisan di medsos. Dah jauh berkembang dinamis keluar dari (bahkan melanggar) aturan baku tata bahasa.

Nah, jadi istilah atau kata sering melesat jauh dari makna awal. Klik sebagai idiom sering digunakan untuk menggambarkan kekompakan. Secara prokem "sudah klik" artinya sudah kompak: sejiwa. Klik juga berarti solemate. Klik artinya paham dan ngerti. Beda lho makna paham dan ngerti.
Tambah aneh tapi nyata kalau di depan kata "klik" ada awalan "nge" jadi "ngeklik" artinya makna idiomnya tambah kental. Nge-klik jadi kata kerja sekaligus kata sifat. Kita ngeklik berarti kita sudah beraksi atau juga menyatu. Kompak. Sharing banyak hal.

Pertanyaannya adalah:  kapan kita klik? Kapankah kita "nge-klik?"


[+/-] Selengkapnya...

TRAUMA IMAN

Selasa, Juli 28


Ini judul yg aneh buat saya. Tapi keinginan kuat menulis dengan judul ini. Begitu banyak manusia yang diagungkan atau dipuja jadi panutan melakukan hal nista. Itu mengecewakan. Melukai perasaan orang-orang yg semula  mengagumi keteladanan figur tertentu.


Khalayak perlu suri teladanan tokoh, sembari menyadari tak ada manusia yang sempurna. Ironisnya, manusia dianggap makhluk ciptaan paling sempurna. Kalau jatuh kena noda berkilah namanya juga manusia.... tak ada yang sempurna.

Kenapa trauma iman? Maksudnya?

Ini soal tokoh agama, baik yang jadi pemimpin atau figur terhormat yg mengilhami dan menyemangati orang banyak menjaga tingkah laku baik. Betapa penting menghargai mereka yang punya moralitas baik. Tapi, jangan tergantung "kebaikan manusia" karena sewaktu-waktu mereka (atau siapapun)  bisa jatuh

Ada bekas orang baik
Ada bekas orang jahat


Orang-orang yang jadi tokoh agama  dituntut lebih dari "orang biasa" karna dia dianggap panutan dan barometer moral tingkah laku. Sekali mereka berbuat nista walau dengan alasan khilaf, bisa membuat orang banyak terguncang imannya atau bisa saja mengundang kesesatan. Contoh kasus sengaja saya tidak paparkan. Terlalu banyak soalnya....

Cukuplah dengan pertanyaan jika sang penjaga moral atau tokoh agama  korupsi kira-kira gimana? Atau tokoh yg berpengaruh, diidolakan menggunakan kuasa kegelapan?

Saya dengan pemahaman terbatas menyebut orang-orang yang kecewa alami trauma iman. Jika saya dan anda sepakat menjadi "kita" maka perlulah kita hormati keutamaan dan kebaikan orang-orang baik. Tapi iman kita tak boleh tergantung moralitas tokoh atau figur tertentu.
Penting menyadari artinya perlu tapi tidak tergantung. Nggak perlu jumawa sembari yakin imanpun sebaiknya mandiri. Dipengaruhi itu wajar. Tapi ketergantungan umumnya riskan.

Anda bebas memilih. Kalau sempat kena trauma iman jangan kecil hati. Iman yg ideal itu melalui proses pertumbuhan. Jangan menunggu kejadian yang heboh-heboh, apalagi peristiwa dahsyat baru merasa dapat pencerahan. Ketelatenan menjalani pergumulan hidup pada hal-hal biasa sehari-hari akan mengurangi resiko trauma iman.

Tulisan ini tak ada leluconnya.... karena memang iman bukan lelucon. Semoga ini tidak dianggap khotbah. Kalaupun dianggap iya, ini khotbah yang nggak lucu. Sungguh nggak lucu.

[+/-] Selengkapnya...

DILEMA AFES

Sabtu, Juli 25

(Berimajinasilah seliar-liarnya)

Anda masih ingat wabah flu burung yang pernah terjadi? (Avian Influenza, 2003-2006). Waktu itu jutaan burung dibasmi. Spesies yg indah ini tiba2 jadi hantu siang dan  malam. Banyak jenis burung atau keluarga afes dinyatakan pontensial menularkan flu yg mematikan manusia.

Andaikan semua burung harus dimusnahkan apa jadinya? Eko sistem terganggu yang berarti sama dengan bencana. Sementara wabah flu burung  juga bencana mendunia. Jadi waktu itu ada upaya mengatasi bencana dengan bencana.

Manusia banyak yg hobi memelihara makhluk hidup, apapun jenis piaraannya. Burung dicintai atau dimanfaatkan buat lomba berkicau, dengan sendirinya terjadi juga bursa dagang burung.
Di mata penyair burung jadi media pesan sastra. Burung juga lambang banyak hal.  Menghiasi dan berperan dalam legenda agama2. Mengilhami manusia untuk membuat pesawat terbang.

Menurut ilmu kira2 dan sesuai ungkapan para penyair burung-burung lebih suka hidup di alam bebas, daripada dikurung dalam sangkar, sekalipun sangkar  terbuat dari emas.
Tapi kini hidup burung-burung dilematis: terpaksa mau dipiara hidup terkekang. Di luar sangkar para pemburu siap menangkap dg berbagai cara atau ditembaki oleh orang-orang yg hobi memanjakan sifat biadab. Atau secara masiv (besar-besaran) eksistensi burung di bawah ancaman pemusnahan masal seperti ketika terjadi wabah flu burung.

Saya punya teman yg secara umum nampak religius: rajin ibadah (agamanya nggak usah saya sebut). Dia punya hobi piara burung dan (secara pribadi) saya mengenalnya sebagai kolektor film porno juga. Dia pernah bilang suatu pesan yg jenaka tapi maknanya sangat dalam:  "para pria sebaiknya mencintai burung-burung seperti dia mencintai 'burungnya' sendiri. Merawat dan menjaga baik-baik supaya burungnya tidak jadi semacam barang bodoh yang tunduk di bawah komando otak purba."

[+/-] Selengkapnya...

TURING

Minggu, Juni 21

Hidup sebagai orang yang terlahir abnormal, tidak pernah mudah. Abnormal yang saya maksud tidak hanya fisik tapi juga non fisik. Dilihat aneh. Dinilai nyentrik. Diperlakukan 'sekedarnya' dan adakalanya dengan rasa curiga. Singkatnya, ga manusiawi. Mungkin tidak semua orang berlaku seperti itu ataupun tidak selalu diperlakukan seperti itu. Hanya umumnya. Dan itu bisa terjadi hanya karena seseorang dinilai 'tidak normal', di luar kebiasaan, ga masuk definisi 'normal' masyarakat umum.

Ga hanya orang, binatang yang abnormal pun mengalami nasib yang kurang lebih sama. Kalau jaman dulu, orang atau binatang yang 'abnormal' khususnya secara fisik, biasanya masuk sirkus dan jadi tontonan. Kalau jaman sekarang... eh... mungkin masih sama ya, hehehe. Hanya paradigma masyarakatnya yang mungkin berbeda. Karena jaman sekarang, justru makin aneh, 'abnormal', penampilan, tingkah laku, atau gaya hidup seseorang, justru diikuti dan digemari. Bisa jadi, bisa jadi...

Diskriminasi ini juga dialami oleh Alan Turing. Anda tahu dia? Kalau belum tahu, sekelumit kehidupannya (walau beberapa bagian dan tokoh adalah fiktif) bisa anda tonton dalam film nominator Oscar 2015, "The Imitation Game", atau membaca novelnya "Alan Turing; The Enigma", karangan Andrew Hodges. Kalau anda ingin lebih menghargai hidup dan kemerdekaan anda, saya rekomendasikan untuk menonton film (atau baca novelnya) ini. Bukan cuma agar anda tahu sekelumit hidup Alan Turing tapi, apa yang ia telah buat dan alami.

Turing adalah seorang jenius matematika dan mesin berkebangsaan Inggris. Saat itu Perang Dunia II sedang berkecamuk. Uni Eropa (Sekutu) melawan Jerman. Amerika Serikat melawan Jepang. Jerman walaupun melawan banyak negara tapi tidak terkalahkan. Sekutu hampir putus asa dan skeptis. Amerika Serikat kewalahan melawan Jepang. Nasib dunia benar-benar genting.

Jerman tak terkalahkan bukan karena strateginya paling yahud. Bukan karena tentaranya super dan alutsistanya tercanggih. Tapi terutama karena strateginya tidak terbaca ataupun terprediksi. Hal ini karena mereka punya sandi yang menyelubungi strategi mereka. Sandi Enigma. Oleh sekutu, Enigma dinilai mustahil dipecahkan. Konsekwensinya, Jerman mustahil dikalahkan. Nah, di sinilah peran penting seorang Alan Turing yang 'abnormal'. Bagaimana prosesnya dan menegangkannya, silakan tonton filmnya ya. Hehehe...

Singkatnya, Alan Turing yang abnormal (ke-abnormal-an dan perjuangan Turing 'mengantisipasi' ke-abnormal-an dirinya dituturkan cukup kuat di film), berhasil memecahkan Sandi Enigma lewat mesin super ciptaannya. Jadi bisa dikatakan, Turing (dan tim-nya) adalah penentu kemenangan Sekutu atas Jerman. Kemenangan yang mungkin baru bisa diraih ratusan tahun kemudian tanpa mesin super ciptaan Turing. Itu satu. Keduanya adalah mesin ciptaan Turing; merupakan cikal bakal komputer modern saat ini. Smartphone dalam genggaman anda. (FYI, smartphone masa kini memiliki kecepatan proses 10 ribu kali dibanding komputer yang membawa Apollo 11 ke bulan tahun 1969).

Turing memang pahlawan. Jenius dan brilian. Itu 'abnormal' yang positif. Apakah ia punya 'abnormal' yang negatif? Menurut ukuran dan hukum di Inggris pada masa itu, ya. Dan itu membawanya pada kesengsaraan dan kematiannya. Alan Turing adalah seorang homoseksual (atau punya tendensi ke sana). Sialnya, di Inggris pada masa itu, homoseksual adalah sebuah kejahatan. Bayangkan, kejahatan yang melekat sejak lahir! Kejahatan yang ia 'lakukan' bahkan sebelum ia sendiri belum bisa berjalan! Konsekwensinya, ia dipenjara atau 'dirawat'. 2-2nya pilihan yang tidak adil. Tapi ia pilih dirawat. Dampak dari perawatan itu, bisa kita duga, ga enak banget. Turing impoten, kemampuan motorik terganggu dan memudarkan kecemerlangannya. Hingga pada akhirnya ia bunuh diri. Tragis memang.

Ada tokoh fiktif dalam film "The Imitation Game" yang sengaja dimunculkan; Detective Robert Nock. Tokoh ini mewakili kita. Ia sengaja dimunculkan untuk memberikan kita sebuah sudut pandang lain. Sudut pandang orang 'normal'. Bahwasanya seperti halnya kita, orang normal kebanyakan dan bukanlah orang jahat (atau bermaksud jahat) apalagi keji, tapi bisa melakukan hal mengerikan seperti itu kepada Turing (orang 'abnormal'). Kita menghakimi dan menjatuhkan hukuman (stigma) secara tidak adil kepada seseorang atas kesalahan yang bukanlah kesalahannya atau atas sesuatu (masalah) yang seharusnya benar-benar kita kenali lebih dulu. Oleh karenanya kita perlu berkaca dan belajar dari seorang Alan Turing yaitu kejujuran dan obyektifitas.

[+/-] Selengkapnya...

ANGELINE

Jumat, Juni 19

Saya ngga bisa tidur. Benak saya masih terganggu, membayangkan derita yang harus dialami Angeline, bocah perempuan yang masih berusia 8 tahun saat dikabarkan telah meninggal. Angeline diabaikan, tersia-sia, disiksa, dibully jasmani dan rohaninya, dilecehkan secara seksual, dan dibunuh entah secara sengaja atau tidak. Saat ini pelakunya masih diselidiki tapi sudah ada yang disangkakan. Penyelidikannya sudah berjalan sebulan lebih sejak Angeline diberitakan hilang pada 16 Mei 2015. Terlalu lama.

Kasus pelecehan (seksual) terhadap anak-anak, kekerasan terhadap anak, memang masih marak terjadi (dan masih ga jelas serta memuaskan perlakuan hukumnya) di negara ini. Namun apa yang menimpa Angeline, adalah yang paling memilukan saya. Biadab. Penyiksaan yang dialami Angeline mengingatkan saya pada film "Pengkhianatan G30 S/PKI". Sungguh keji.

Kasus Angeline menjadi luka kita semua. Mungkin juga menjadi trauma kita semua. Namun harus menjadi pelajaran buat kita semua. Bahwasanya negeri ini belum aman bagi kebanyakan anak-anak. Bahkan di saat mereka berada di lingkup (yang seharusnya) paling aman sekalipun. Di saat 'oknum' wakil-wakil rakyat minta diperluas dan dipernyaman istananya, lingkup aman & nyaman anak-anak justru makin sempit. Ketika mereka teriak ramai-ramai menuntut dana aspirasi milyaran hingga trilyunan rupiah, toh aspirasi anak-anak (dan rakyat yang mereka wakili) tetap terabaikan. Kalian duduk dan berwenang membuat undang-undang. Apa undang-undang perlindungan hukum bagi anak-anak, sudah kalian perbaiki lagi? Apa kalian 'teriak' supaya pelaku kekerasan termasuk pelecehan (seksual) terhadap anak mendapat hukuman seberat-beratnya? NO!! F**k you all! Sakitnya tuh di sini..

Deddy Corbuzier, lewat akun Youtubenya, menginginkan hukuman mati buat (para) pelaku penyiksaan dan pembunuhan Angeline. Kalaupun mereka dipenjara (seberat-beratnya), setelah bebas, ia tantang untuk menemui dia. Dia berjanji akan memberi pelajaran tentang artinya rasa sakit. Dengan kata lain, ga ada ampun buat pelakunya.

Ange. Ndhuk. Saya yakin kamu sudah bahagia di surga. Dan mungkin kamu ga mau pusingin apa yang sudah menimpa kamu. Kamu cuma ingin supaya ga ada Angeline-Angeline lain di kemudian hari. Tidak apa-apa. Itu memang bukan tugas kamu. Itu tugas kami untuk memastikan tidak ada Angeline lainnya, dan tidak ada pelaku kekerasan dan pelecehan yang selamat. Biarlah kamu tenang di surga.
Selamat jalan, Ange...

[+/-] Selengkapnya...

SAHABAT Jala

KOPI PANAS Jala

BEHIND Jala

Foto saya
menjala hati, menjelajah dunia dalam dunia -Andreas & Petrus-

  © Blogger template Techie by Ourblogtemplates.com 2008, edit by PeToe! 2009

Back to TOP