B E R I

Rabu, Desember 21

berilah solusi
bukan khotbah
atau berilah
khotbah solusi

tak harus ada kisah inspiratif
dan kalimat super
pencerahan memang indah dan perlu,
tapi itu cuma akan jadi pemicu jika tidak ada aksi.
ibarat kokang senjata tapi trigger ga disentuh.

tindakan yg merubah
tindakan solusi

jika cuma bisa mendoakan jangan ragu itu lebih baik daripada khotbah yg bukan solusi

[+/-] Selengkapnya...

Hidup adalah Perang

Selasa, Desember 20

apapun bentuk dan cara kampanye positif kemanusian ini sangat luhur.
sadar maupun tidak ini untuk mengimbangi (atau "memerangi?) tindakan atau kampanye negatif.

sebenarnya hal yg paling berpengaruh dan mewarnai dunia adalah perang apapun bentuknya.

perang dan tentara itulah mendominasi.
bahkan sampai kerajaan surga pun punya bala tentara.

alam kewiraan yg abadi...
faktanya perang tetap eksis sampai ranah aspek sosial kehidupam yg paling kecil dan terbatas.

tentu sebagaimana perang yg terus2an, kasih juga kekal

[+/-] Selengkapnya...

Bahan Bakar Ribut (BBR)

Kamis, September 17

Sudah bukan rahasia umum kalau (kebanyakan) sinetron Indonesia itu stereotype; asal rame dan ga mendidik. Untungnya saya punya alternatif lain yang lebih mendidik, yaitu: ga nonton sinetron Indonesia! He he he… tapi saya ga berniat cerita soal sinetron Indonesia yang walaupun ganteng tapi serigala.

Saya mau cerita satu film dokumenter buatan National Geographic yang pas saya tonton, sedang membahas tentang energi terbarukan. Energi terbarukan ini maksudnya energi alternatif yang bukan berasal atau bukan dihasilkan menggunakan minyak bumi ataupun batu bara (bahan bakar fosil). Seperti kita tahu -atau kalau ada yang belum tahu, pura-pura tahulah- persediaan minyak bumi di seluruh dunia sudah menipis. Ada yang bilang tinggal 30 Tahun, 50 tahun lagi, atau sedikit lebih lama dari itu. Itupun masih tergantung dari pemakaian BBM saat ini. Berhemat atau justru makin boros. Mumpung masih disubsidi toh? Begitu pikir kita…

Energi ramah lingkungan yang memadai saat ini memang listrik. Tapi pembangkitnya kebanyakan masih menggunakan BBM. Ada juga tenaga pembangkitnya menggunakan panas bumi, uap, angin, gelombang laut, tapi dirasa masih belum maksimal. Tenaga nuklir sangat menjanjikan dan murah, tapi ga ramah lingkungan dan berbahaya. Label ramah lingkungan ini juga penting dan harus dimiliki antara lain supaya lapisan atmosfer bumi (ozon) yang menipis akibat polusi BBM, tidak bertambah luas atau bahkan benar-benar melubangi ozon. Kalau ozon sampai bolong, tinggal menunggu waktu ubun-ubun kita juga bolong akibat kepanasan dan radiasi sinar UV matahari.

Nah, kembali pada penemuan-penemuan ataupun inovasi-inovasi baru cara menghasilkan energi (listrik) tadi, sungguh luar biasa dan cukup memberi harapan. Penghasil energi macam-macam dan aneh-aneh. Ada yang dari algae hijau, suhu tubuh, gerak, dan lain-lain. Energi yang didapat kebanyakan diubah menjadi energi listrik, tapi ide cara mendapatkan energi listrik tersebut yang menarik. Saya melihat ada kesamaan di antara ide-ide tersebut. Yaitu menggunakan energi sisa atau buangan atau recycle energi. Sumber penghasilnya adalah manusia itu sendiri. Sebagai contoh, ada seorang remaja perempuan yang berhasil membuat senter yang listriknya dihasilkan dari panas tubuh manusia. Jadi tiap kali kita pegang senter, ia otomatis menyala tanpa harus ada batere di dalamnya. Ada juga yang menciptakan alat penghasil listrik dari perbedaan suhu panas dan dingin. Kebayang ga?

Dari penemuan-penemuan tadi, ada satu yang menginspirasi saya, yaitu bola sepak yang sekaligus bisa menjadi semacam batere. Di dalam bola tadi ada semacam converter yang berfungsi mengubah energi kinetik menjadi energi listrik yang kemudian ditampung dalam batere isi ulang yang juga ada di dalam bola tadi. Dan teknologi ini sudah dipakai antara lain di daerah-daerah di Afrika yang belum mendapat listrik. Jadi, pada pagi atau siang hari, bola tadi dipakai bermain oleh anak-anak dan sore atau malamnya bola tadi menjadi sumber tenaga buat lampu led yang menerangi waktu belajar mereka, bahkan bisa untuk me-recharge handphone. 1 jam dipakai bermain, cukup untuk menghasilkan listrik untuk 3 jam. Teknologinya terjangkau, energinya gratis dan swadaya, kegembiraan bertambah, edukasi bisa ditempuh hingga malam hari. Luar biasa, toh!

Di Indonesia, perangkat teknologi ini pun pasti berguna sekali karena masih banyak, terlalu banyak bahkan, daerah yang belum mendapat listrik ataupun pasokan yang cukup. Tapi saya membayangkan kalau saja alat tersebut tidak hanya mengkonversi energi kinetik dari anak-anak yang bermain bola tapi bisa juga mengkonversi misalnya dari pak tani yang mencangkul atau kerbau yang membajak sawah, petani karet yang harus menyadap sekian hektar kebun karet, pekerja kebun teh dan kopi, penambang kapur dan belerang yang menyabung nyawa dengan upah minim, tukang becak, dan pekerja keras lainnya di negeri ini.

Lebih inovatif lagi, bagi ibu-ibu yang selesai bekerja, mengaso di depan rumah dengan tetangganya, sambil saling mencari kutu dan uban, rumpiannya bisa dikonversi jadi energi. Bagi para wakil rakyat yang sangat mempedulikan nasib (=baca: uang) rakyat, yang doyan bergurau sambil banting meja kursi dan ngumpetin palu sidang, sibuk ngobrolin partainya, tidur si(d)ang, dan lain-lain. Bayangkan kalau keriuhan ga penting itu bisa dikonversi jadi energi listrik gratis untuk rakyat. Pasti rakyat cukup terhibur. Listriknya bisa dipakai untuk menyalakan TV. Nonton mereka ribut…  he he he…

[+/-] Selengkapnya...

SAHABAT Jala

KOPI PANAS Jala

BEHIND Jala

Foto saya
menjala hati, menjelajah dunia dalam dunia -Andreas & Petrus-

  © Blogger template Techie by Ourblogtemplates.com 2008, edit by PeToe! 2009

Back to TOP