Bahan Bakar Ribut (BBR)

Kamis, September 17

Sudah bukan rahasia umum kalau (kebanyakan) sinetron Indonesia itu stereotype; asal rame dan ga mendidik. Untungnya saya punya alternatif lain yang lebih mendidik, yaitu: ga nonton sinetron Indonesia! He he he… tapi saya ga berniat cerita soal sinetron Indonesia yang walaupun ganteng tapi serigala.

Saya mau cerita satu film dokumenter buatan National Geographic yang pas saya tonton, sedang membahas tentang energi terbarukan. Energi terbarukan ini maksudnya energi alternatif yang bukan berasal atau bukan dihasilkan menggunakan minyak bumi ataupun batu bara (bahan bakar fosil). Seperti kita tahu -atau kalau ada yang belum tahu, pura-pura tahulah- persediaan minyak bumi di seluruh dunia sudah menipis. Ada yang bilang tinggal 30 Tahun, 50 tahun lagi, atau sedikit lebih lama dari itu. Itupun masih tergantung dari pemakaian BBM saat ini. Berhemat atau justru makin boros. Mumpung masih disubsidi toh? Begitu pikir kita…

Energi ramah lingkungan yang memadai saat ini memang listrik. Tapi pembangkitnya kebanyakan masih menggunakan BBM. Ada juga tenaga pembangkitnya menggunakan panas bumi, uap, angin, gelombang laut, tapi dirasa masih belum maksimal. Tenaga nuklir sangat menjanjikan dan murah, tapi ga ramah lingkungan dan berbahaya. Label ramah lingkungan ini juga penting dan harus dimiliki antara lain supaya lapisan atmosfer bumi (ozon) yang menipis akibat polusi BBM, tidak bertambah luas atau bahkan benar-benar melubangi ozon. Kalau ozon sampai bolong, tinggal menunggu waktu ubun-ubun kita juga bolong akibat kepanasan dan radiasi sinar UV matahari.

Nah, kembali pada penemuan-penemuan ataupun inovasi-inovasi baru cara menghasilkan energi (listrik) tadi, sungguh luar biasa dan cukup memberi harapan. Penghasil energi macam-macam dan aneh-aneh. Ada yang dari algae hijau, suhu tubuh, gerak, dan lain-lain. Energi yang didapat kebanyakan diubah menjadi energi listrik, tapi ide cara mendapatkan energi listrik tersebut yang menarik. Saya melihat ada kesamaan di antara ide-ide tersebut. Yaitu menggunakan energi sisa atau buangan atau recycle energi. Sumber penghasilnya adalah manusia itu sendiri. Sebagai contoh, ada seorang remaja perempuan yang berhasil membuat senter yang listriknya dihasilkan dari panas tubuh manusia. Jadi tiap kali kita pegang senter, ia otomatis menyala tanpa harus ada batere di dalamnya. Ada juga yang menciptakan alat penghasil listrik dari perbedaan suhu panas dan dingin. Kebayang ga?

Dari penemuan-penemuan tadi, ada satu yang menginspirasi saya, yaitu bola sepak yang sekaligus bisa menjadi semacam batere. Di dalam bola tadi ada semacam converter yang berfungsi mengubah energi kinetik menjadi energi listrik yang kemudian ditampung dalam batere isi ulang yang juga ada di dalam bola tadi. Dan teknologi ini sudah dipakai antara lain di daerah-daerah di Afrika yang belum mendapat listrik. Jadi, pada pagi atau siang hari, bola tadi dipakai bermain oleh anak-anak dan sore atau malamnya bola tadi menjadi sumber tenaga buat lampu led yang menerangi waktu belajar mereka, bahkan bisa untuk me-recharge handphone. 1 jam dipakai bermain, cukup untuk menghasilkan listrik untuk 3 jam. Teknologinya terjangkau, energinya gratis dan swadaya, kegembiraan bertambah, edukasi bisa ditempuh hingga malam hari. Luar biasa, toh!

Di Indonesia, perangkat teknologi ini pun pasti berguna sekali karena masih banyak, terlalu banyak bahkan, daerah yang belum mendapat listrik ataupun pasokan yang cukup. Tapi saya membayangkan kalau saja alat tersebut tidak hanya mengkonversi energi kinetik dari anak-anak yang bermain bola tapi bisa juga mengkonversi misalnya dari pak tani yang mencangkul atau kerbau yang membajak sawah, petani karet yang harus menyadap sekian hektar kebun karet, pekerja kebun teh dan kopi, penambang kapur dan belerang yang menyabung nyawa dengan upah minim, tukang becak, dan pekerja keras lainnya di negeri ini.

Lebih inovatif lagi, bagi ibu-ibu yang selesai bekerja, mengaso di depan rumah dengan tetangganya, sambil saling mencari kutu dan uban, rumpiannya bisa dikonversi jadi energi. Bagi para wakil rakyat yang sangat mempedulikan nasib (=baca: uang) rakyat, yang doyan bergurau sambil banting meja kursi dan ngumpetin palu sidang, sibuk ngobrolin partainya, tidur si(d)ang, dan lain-lain. Bayangkan kalau keriuhan ga penting itu bisa dikonversi jadi energi listrik gratis untuk rakyat. Pasti rakyat cukup terhibur. Listriknya bisa dipakai untuk menyalakan TV. Nonton mereka ribut…  he he he…

[+/-] Selengkapnya...

Ramai-Ramai Gagap Online

Kamis, September 10

Masih inget ya, lagunya Saykoji, “…online, online…”, yang pernah ngetop beberapa tahun lalu. Fenomena “serba online” di Indonesia saat ini memang makin terasa marak. Perkembangannya cepat sekali dan luas. Dari semua sektor, mungkin yang paling berpengaruh adalah sektor perdagangan dan jasa. Iklan online dengan berbagai bentuknya kini bisa disampaikan dengan sangat cepat, sangat luas, sangat murah. Selama ada jaringan internet di suatu daerah, maka orang bisa mendapati berbagai tawaran online; TV online, belanja online, jualan online, kuliah online, transaksi perbankan online, ngrumpi online, kenalan dan temanan online, bioskop online, game online, judi online, prostitusi online, dakwah online, khotbah online, petisi online, taxi online, ojek online, dst...

Kecepatan pertumbuhan pengguna internet ini juga ga terlepas dari perkembangan teknologi gadget. Banyaknya gadget murah meriah juga mendorong jumlah pengguna internet. Akses internet semakin gampang sehingga anak balita pun mengerti dan mampu menggunakan internet. Tau-tau kuota internet habis buat main game online atau nonton Youtube. He he he…

Sejalan dengan itu, berbagai aplikasi gadget berbayar dan gratis dengan berbagai inovasi teknologi yang menyertainya pun menjamur. Saking luas dan cepatnya, kitapun ga jarang tergagap-gagap, tergopoh-gopoh mengikutinya. Sebut aja fenomena ojek online. Ojeknya sendiri sudah lama ada. Tapi ketika ini menjadi meluas, ramai (dan terorganisasi atau tersistem) baik pengojek maupun pengguna jasa ojeknya, mereka (pengojek konvensional dan pemerintah), terperangah dan cukup gelagapan dalam merespon. Seakan diserang musuh secara tiba-tiba. Responnya, tentu saja beragam. Ada yang menganalisa dan beradaptasi, ada yang gelagapan panik, lari, menyerang balik, ataupun gagap pasrah menghadapi perubahan besar dan tiba-tiba seperti ini.

Ojek online atau Uber Taxi hanya merupakan 1-2 contoh. Sebelumnya kita terkaget-tergagap akan terungkapnya judi online, prostitusi online, ganja online, kampus online yang berujung ijazah palsu, ujian online, “dakwah” ISIS online, dst… Banyak yang tidak siap dengan dampak terbuka luasnya media online. Banyak juga yang sudah bersiaga dan siap memanfaatkannya, termasuk menyalahgunakannya. Siap ga siap, toh, arus ini tidak akan berhenti bahkan bisa saja bertambah deras.

Hal lain yang masih dan sedang tren adalah ngrumpi online (chatting), medsos semacam Facebook masih jadi primadona, toko jual beli online menjadi pilihan cuci mata (dan belanja) di sela-sela jam kerja kantor atau pas istirahat siang, dan tentunya games online (gamon). Ketika tempat penyewaan PS (Play station) mulai sepi penggemar, gamon justru sebaliknya. Gamon memang mengasyikkan dan bisa membuat lupa waktu. Lupa kerja, lupa belajar, lupa makan, dsb. Banyak tempat penyewaan gamon tetap ramai di jam sekolah. Ketika masuk ke dalam, isinya anak-anak sekolah. Sisi buruk lainnnya, ya bisa membuat kita kecanduan. Dalam beberapa kasus ekstrem, membuat penggunanya kehilangan orientasi antara fantasi dan realitas. Semoga kasus ekstrem ini tidak terjadi di Indonesia (khususnya). Kalau sampai terjadi, akan membuat banyak orang (termasuk orang tua anak penikmat gamon) terperangah, gelagapan, dan tergagap merespon lagi. Banyak orang akan menyalahkan ini-itu, menganalisa hal yang sudah telanjur terjadi, ataupun ramai-ramai mengambil langkah antisipasi yang sudah terlambat.

[+/-] Selengkapnya...

Aku Kalian Anggap, Ga Sih?

Kamis, September 3

Beberapa waktu lalu, dalam waktu yang berdekatan, saya dijadikan tempat curhat oleh 2 orang teman. Mereka datang dengan bongkahan-bongkahan rasa kesal dan gondok besar di leher yang untungnya tidak kasat mata. Setengah curhat, mata mereka berkaca-kaca menahan sedih, kecewa, kesal, marah. Campur-campur seperti sop buah maja. Pahit!

Inti curhatnya sama. Mereka merasa tidak dianggap alias disepelekan walaupun selama ini mereka banyak mengorbankan waktu, tenaga, perhatian (mungkin juga uang). Mereka juga merasa sudah dilecehkankan dan terluka oleh kata-kata orang-orang di komunitasnya. Semua berakibat kedua teman saya ini mutung alias ngambek dan mengambil langkah yang sama. Menjauhi komunitas yang telah melukai mereka.

Manusia memang sejatinya adalah makhluk sosial. Bahkan yang autis pun butuh perhatian dan berkomunikasi. Secara alami, setiap orang akan mencari orang lain atau suatu komunitas untuk bersosialisasi. Apalagi jaman sekarang. Dunia sosial di jagad maya sudah begitu riuh dan bisa menjembatani relasi antar manusia. Lewat dunia maya internet, manusia merasa makin terhubung satu sama lain, bisa selama 24 jam nonstop. Jangan heran (walaupun saya sendiri masih terheran-heran) jika melihat orang yang seakan ga bisa melepaskan pandangannya dari layar gadget. Tangannya pun selalu sibuk, bukan sibuk bekerja atau menggandeng tangan pacarnya, tapi sibuk ngetik gadget. Gadget pacarnya… he he he…

Dunia sosial yang dipenuhi oleh benang-benang relasi antar manusia bukan hanya (alat/sarana) penting bagi manusia (kita) tapi itu adalah kita sendiri (society). Sehingga penting dan perlu (bahkan harus) dijaga. Ketika benang itu dirusak atau putus maka akan berdampak pada kita/masyarakat, secara langsung ataupun tidak. Oleh karenanya kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat –apalagi di depan/ruang publik- (yang seringkali terlalu diagung-agungkan dan juga disalahgunakan), harus tetap memperhatikan etika. Karena walaupun kebebasan adalah hak pribadi, komunikasi bisa disampaikan dengan berbagai media, cara, dan diantar dengan niat baik namun targetnya adalah sama; kepada manusia (atau manusia-manusia) lain. Oleh karenanya, di atas itu semua, kemanusiaan dan martabat manusialah yang harus tetap dijunjung tinggi. Dengan berpegang pada prinsip itu, komunikasi, relasi, bisa tetap terjalin santun dan bermartabat. Karena hal itu yang membuat kita tetap menjadi manusia, yang diciptakan secitra dengan Dia.

[+/-] Selengkapnya...

SAHABAT Jala

KOPI PANAS Jala

BEHIND Jala

Foto saya
menjala hati, menjelajah dunia dalam dunia -Andreas & Petrus-

  © Blogger template Techie by Ourblogtemplates.com 2008, edit by PeToe! 2009

Back to TOP