Trauma

Senin, September 21

Di tengah kebingungan mau menulis apa, saya teringat satu peristiwa tragis dunia di bulan ini, 8 tahun lalu. New York, 9 September 2001, Selasa pagi. Satu kejap peristiwa yang membuat dunia terhenyak dan menderita trauma panjang bahkan bagi mereka yang tidak menjadi korban secara langsung. Penderitaan secara fisik mungkin terbilang. Penderitaan mental & kejiwaan, jauh lebih dahsyat.
Data hasil survey kesehatan dari 46.000 orang lebih di tahun 2003-2004 menunjukkan 'hanya' 14% yang mengalami gangguan kesehatan terkait trauma tadi. Gangguan tadi antara lain bisa berupa asma, susah tidur, phobia, atau mendadak stress tanpa alasan yang jelas. 3 tahun sesudahnya, hasil survey mengatakan, penderita gangguan k esehatan terkait trauma 9/11 meningkat menjadi 19%! Setengah dari penderita mengatakan mereka tidak menjalani perawatan khusus di tahun-tahun sebelumnya.

Pada 26 Desember 2004 lalu, Aceh dan sekitarnya luluh lantak oleh tsunami yang terjadi akibat gempa dahsyat berkekuatan 8.9 Skala Richter (SR) di Samudra Hindia, lepas pantai Aceh dan menewaskan lebih dari 190.000 jiwa (itu baru orang, belum termasuk hewan dan tanaman!). Hingga saat ini, masih banyak dari korban yang selamat, menangis atau histeris ketika mendengar kata, tsunami.

Menghadapi mereka yang menjadi korban atau menderita trauma berat seperti ini pastilah bukan perkara yang mudah. Kita bisa bersimpati, tapi apakah itu cukup bila yang menjadi korban adalah orang yang dekat dan kita kasihi? Ketika mereka menangis pedih atau diam dengan tatapan kosong di depan mata kita? Alih-alih segera memberi nasehat "Sabar ya...", "Kamu harus tabah.", "Kamu kuat, kamu bisa melalui ini.", atau kata-kata hiburan lain (setidaknya kita berharap kata-kata itu bisa menghibur), lidah saya lebih sering kelu.

Film "Fragments" (alias "Winged Creatures", berdasar novel karangan Roy Freirich dengan judul yang sama), dibintangi oleh Kate Beckinsale, Forest Whitaker, Guy Pearce, Dakota Fanning & Jennifer Hudson), menjadi salah satu sarana bagi saya belajar berempati. Berharap semoga saya bisa bersikap lebih baik & berkata-kata yang tepat kepada jiwa yang sedang terguncang. Meskipun film yang hanya beredar dalam format DVD ini secara kualitas berada di bawah film setipikal "Crash" (Don Cheadle, Sandra Bullock, Matt Dillon), namun tema dan para pemainnya, membuat saya tidak berpikir kepanjangan.
Sedikit review, film ini diawali dengan kejadian yang sangat mengejutkan di sebuah kafe yang cukup ramai namun tenang, ketika tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas (maksudnya benar-benar tidak jelas karena sampai akhir cerita kita tidak tahu siapa dan apa motif si pembunuh!) seseorang masuk dan menembaki para tamu kafe. Cerita bergulir dari 5 orang yang selamat dari insiden tadi. 4 orang berada di tempat kejadian saat insiden, 1 lainnya tidak. Satu orang ini, Bruce Laraby (Guy Pearce), seorang dokter ruang gawat darurat, kebetulan meninggalkan kafe hanya sesaat sebelum kejadian. Namun belakangan dia menyadari bahwa dialah orang yang membukakan pintu untuk si pembunuh ketika hendak keluar meninggalkan kafe. Hal ini membuat mental & jiwanya terguncang, cukup untuk melahirkan obsesi aneh dalam dirinya. Lebih jauh, ia bereksperimen dengan meracuni istrinya lalu menyembuhkannya, berulang-ulang, berharap dengan begitu ia bisa memaafkan dirinya sendiri. Hal yang sama terjadi pada 4 korban lainnya dalam versi yang berbeda. Ada yang menutup dirinya bahkan membisu, ada yang menjadi sangat egois dan haus perhatian, ada yang hidup dalam realitasnya sendiri karena menolak realitas sesungguhnya, dan ada yang menjadi seperti orang linglung dan terus mencoba batas peruntungannya. Mereka begitu terguncang -bahkan tanpa mereka sadari- hingga kehilangan akal dan arah.

Beberapa film lain bertema (hampir) sama yang saya rekomendasikan: Born On The 4th Of July (Tom Cruise), Home Of The Brave (Samuel L. Jackson, Jessica Biel), The Brave One (Jodie Foster).

Trauma fisik bisa kita antisipasi & hindari. Lain halnya dengan trauma mental-jiwa. Trauma bisa berdampak berbeda buat setiap orang. Trauma bisa menyeret sebagian bahkan keseluruhan hidup seseorang hingga orang tersebut menjadi pribadi yang berbeda. Trauma itu, menular. Tapi, ia bukanlah sesuatu yang tak tersembuhkan. Terapi yang tepat dan teratur bisa menyembuhkan. Terapi sederhana seperti meditasi, doa, musik, menulis bahkan games pun bisa membantu banyak. Just don't give up.

(doa orang benar yang dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya)

(pToe!)



Artikel yang berkaitan



0 komentar:

Poskan Komentar

Menurutmu, bagaimana postingan di atas? Silakan beri komentar terbaikmu but NO SPAM please. Thx.

SAHABAT Jala

KOPI PANAS Jala

BEHIND Jala

Foto saya
menjala hati, menjelajah dunia dalam dunia -Andreas & Petrus-

  © Blogger template Techie by Ourblogtemplates.com 2008, edit by PeToe! 2009

Back to TOP