Jangan Membuang Waktu

Jumat, Mei 11

Kita pasti sering mendengar ujaran atau nasehat "Jangan Buang-Buang Waktu". Di jaman yang menuntut semua serba instan seperti sekarang, nasehat itu tentu mengena sekali. Apalagi jika sudah dikaitkan dengan masalah uang; Dewa jaman modern. Hal itu menjadi seakan masuk akal dan mutlak. "Waktu adalah uang!" Membuang waktu berarti membuang uang.

Perkotaan hidup selama 24 jam penuh. Hampir selalu hingar bingar bahkan di malam hari di saat seharusnya dunia senyap, beristirahat, atau bermimpi. Tidak ada kata istirahat apalagi berhenti. Karena istirahat berarti, membuang-buang waktu.


Kemajuan teknologi multimedia, komunikasi, hiburan, market, memaksa orang untuk terus melakukan sesuatu. Bergerak, melihat, mendengar, mencari, menikmati, mengamati, mencobai, menyumpahi, menghakimi, mengagumi, membuang, menyampahi, mengotori, menzolimi, mencabuli, meneriaki, membodohi, dan lain sebagainya... meminjam salah satu tagline iklan, "Just Do It", tanpa kita berpikir panjang akan berakibat baik atau buruk. Bisa jadi kita memburuk-buruki yang baik atau membaik-baiki yang buruk... 

Jaman Hedonisme, konsumerisme, serba instan, membuat orang mudah tersesat mengikuti cepatnya arus. Tapi kebanyakan orang tidak menyadari itu. Justru kebalikannya, kita akan merasa tersesat jika tidak mengikuti arus. Kita akan merasa ketinggalan jaman atau disebut ketinggalan jaman oleh orang lain. "Ga gaul, luh..!"

Saya ingat akan sebuah cerita. Suatu hari seorang pengusaha kaya raya berjalan-jalan di pantai sambil tak henti-hentinya mengagumi kesuksesan yang telah ia raih, hingga ia mendapati di depannya seorang nelayan yang sedang berbaring santai di pinggir perahunya sambil menikmati sebatang rokok. Kepada si nelayan, pengusaha itu bertanya,
"Mengapa engkau bermalas-malasan di sini?"
Jawab si nelayan, "Aku telah bekerja semalaman dan hasilnya cukup untuk 4 hari ke depan."
Sahut si pengusaha, "kalau kau bekerja lebih keras dan tidak membuang-buang waktumu di sini, kau bisa mendapat ikan yang lebih banyak."
"Untuk apa aku mendapat ikan yang lebih banyak?" tanya si nelayan.
"Tentu kau bisa jual ikan-ikan itu. Hasilnya bisa kau belikan perahu lagi atau jala yang lebih bagus."
"Untuk apa?" Si nelayan mulai tertarik
"Supaya kau bisa mendapat ikan yang lebih banyak lagi..."
Si nelayan termenung "...lalu?"
"Kau bisa jual hasil tangkapanmu untuk membeli perahu motor supaya kau bisa pergi ke tempat yang lebih banyak ikannya untuk kau jual lagi. Kau bisa menjadi pengusaha yang sukses dan kaya raya sepertiku!" Kata si pengusaha dengan berapi-api dan bangga.
Si nelayan termenung lebih lama. Lalu tanyanya, "Apa yang bisa aku perbuat setelah aku sukses dan kaya raya?"
Dengan senyum lebar si pengusaha berkata, "Kau bisa bersantai dan menikmati hidup sepertiku..."
Si nelayan menatap lekat-lekat si pengusaha sambil tersenyum tak kalah lebar, katanya,
"Pak, bukankah itu yang sedang saya lakukan sekarang..?"

Orang beroleh hikmat bukan dari kebisingan & kesibukan tapi dari diam.


Andreas & Petrus



Artikel yang berkaitan



13 komentar:

Cara Alami Mengobati Epilepsi 15:22  

makasih infonya

Cara Alami Mengobati Kista Ovarium 15:23  

semoga sukses selalu

Cara Alami Mengobati Sinusitis 15:25  

Salam kenal dan sukses selalu

Cara Alami Mengobati Jerawat 15:26  

infonya sangat bermanfaat sekali

Obat Tradisional Penyakit Ambeien 15:27  

thank's infonya

obat kanker paru paru 13:45  

salam kenal

Obat Rambut Rontok 13:48  

salam sehat semuanya,

Obat Sakit Pinggang 13:52  

hai,gan

Obat Diare 13:56  

sukses selalu sobat

pengobatan diare 13:59  

salam jumpa

pengobatan liver empedu 14:02  

halo agan !!

pengobatan keputihan 14:04  

apa kabar sobat??

pengobatan asam urat 14:06  

sukses terus gan,

Poskan Komentar

Menurutmu, bagaimana postingan di atas? Silakan beri komentar terbaikmu but NO SPAM please. Thx.

SAHABAT Jala

KOPI PANAS Jala

BEHIND Jala

Foto saya
menjala hati, menjelajah dunia dalam dunia -Andreas & Petrus-

  © Blogger template Techie by Ourblogtemplates.com 2008, edit by PeToe! 2009

Back to TOP