26 Oktober 2011

Dirimu Adalah... Sesuatu...

Pikiran itu kompleks. Sekompleks otak manusia yang memproduksinya. Dengan pikiran, manusia mampu mengolah banyak data, mempertimbangkan berbagai pilihan dalam satu waktu, dan mengkalkulasi perhitungan-perhitungan rumit. Ide-ide cemerlang yang lahir dari pikiran manusia tadi mampu membawanya ke bulan, luar angkasa, menyelami dalamnya samudra, menyaksikan tarian proton dan elektron di dalam atom, bahkan membuat ilusi kehidupan.

Kata hati itu lebih sederhana. Lebih spontan. Ia bisa melompat begitu saja seperti lumba-lumba melenting tinggi dari dalam laut ke udara. Tapi, bukan berarti ia tidak lebih penting dibanding pikiran. Ia seperti galah panjang yang membuat manusia mampu melompat tinggi dan jauh sebelum pikiran mampu menyelesaikan perhitungan rumitnya. Bahkan ketika hasil perhitungan tadi, di atas kertas; gagal, kata hati bisa menyatakan kebalikannya.

Pikiran dan kata hati memang tidak selalu sejalan (mungkin keduanya tidak perlu selalu sejalan), namun bukan berarti mereka bisa dipisah sendiri-sendiri. Mereka tetaplah satu tim dengan keunikannya masing-masing. Anda tahu, hal terbesar yang terjadi dalam sejarah manusia ketika pikiran dan kata hati bersatu? Mereka 'menemukan' Tuhan, penciptanya...

Nasehat mengatakan, jika hatimu panas maka kepalamu (pikiranmu) harus tetap dingin (tenang). Sebaliknya, jika pikiranmu sedang buntu, gelap, dan mengatakan 'tidak mungkin', kamu harus belajar mendengarkan kata hatimu...

Dalam sebuah acara kompetisi menyanyi akbar "X-Factor" (USA) yang sedang berlangsung, ke-4 juri : Simon Cowell, Paula Abdul, L.A. Reid, & Nicole Schezinger seringkali harus membuat keputusan berat khususnya di babak pertengahan (Judges' Houses). Mereka harus menyaring lagi para kontestan yang ada sebelum mereka dibawa ke level Live Stage, tentunya dengan kalkulasi pertimbangan yang sangat tidak mudah. Dan ketika di depan mata, di telinga, di atas kertas para juri, para kontestan ini mampu memberikan penampilan terbaik bahkan memukau para juri, penyeleksian menjadi semakin sulit. Para juri seringkali harus meletakkan bahkan mungkin menyembunyikan pikiran mereka jauh-jauh, lalu mengandalkan kata hati mereka saja sebagai pijakan dan sandaran keputusan-keputusan urgent mereka.
Itu baru pengambilan keputusan dalam acara kontes menyanyi, apalagi harus mengambil keputusan atau pilihan atas seorang calon pemimpin... Wah, sungguh bukan perkara mudah. Mungkin, begitu sulitnya, hingga si pemilih menyerah dan menggunakan metode konyol yang ia tahu; Cap Cip Cup atau Mengurut Kancing Baju... pilih...tidak...pilih...tidak...he he he...

Ah, menjadi manusia memang rumit. Namun bisa jadi manusia memang didesain rumit agar siap dan mampu mengatasi hal-hal rumit dalam hidupnya dan tidak mendasarkan pilihannya pada jumlah kancing baju atau hal-hal konyol lainnya. Agar manusia mampu menggunakan pikiran dan kata hatinya untuk mengambil pilihan yang tepat dan perlu. Baik menggunakan keduanya ataupun salah satunya. Dan di antara kedua pilihan tersebut, anda butuh kebijaksanaan.

(The Serenity Prayer) Doa Ketentraman : "Ya Tuhan, berikanlah aku kekuatan agar mampu mengubah apa yang bisa kuubah, kerendahan hati agar mampu menerima apa yang tidak bisa kuubah, dan kebijaksanaan agar mampu membedakan kedua hal itu"

Andreas & Petrus 

31 Agustus 2011

Suri Idola

Masih segar dalam ingatan ketika Irfan Bachdim, Cristian "El Loco" Gonzales, dan Briptu Norman Kamaru menjadi idola baru. Gejala fenomenal ini dipicu oleh banyaknya pemberitaan oleh media massa khususnya elektronik. Popularitas Irfan Bachdim dan Gonzales yang meroket masih masuk di akal dikarenakan prestasi olah raga sepak bola (dan keelokan parasnya) yang disukai khususnya oleh kebanyakan wanita Indonesia. Namun popularitas Briptu Norman yang meroket bak rudal jenis Scud, karena aksinya bernyanyi sambil berjoget India, buat saya tidak masuk akal. Berita terakhir (19 April 2011), penggugah video aksinya di Youtube sudah tembus angka 200 ribuan!

Buat saya, yang menjadi tidak masuk akal adalah bagaimana saat ini menjadi orang terkenal seakan mudah sekali. Bisa dibilang dengan modal 'dengkul' saja orang bisa terkenal dalam waktu singkat. Tidak pandang bulu siapa dan usia berapa. Tidak mesti wajar dan sopan. Tanpa aturan dan kriteria. Semua bisa diunggah atau dinikmati, hampir tanpa saringan. Membius dan menggoda. Surga dan Neraka jadi satu. Ha ha ha...

Saat video unggahan Sinta & Jojo menyanyikan lagu "Keong Racun" booming, masyarakat latah menyaksikan, mengunduh, atau beli keping cd video tersebut yang menurut saya -maaf- biasa-biasa saja. Itu tidak masuk akal buat saya.

Ketika video Ariel, Luna & Cut Tari "beraksi" beredar luas sekali di jagad maya, masyarakat juga berbondong-bondong -walaupun mengaku tidak sengaja- menyaksikan, mengunduh, atau beli keping cd video tersebut. Tak kalah boomingnya ketika artis porno Jepang, Miyabi, mau datang ke Indonesia. Kakinya belum menapak saja, hebohnya sudah dahsyat bukan kepalang... Nah, ini lucunya, walaupun keempatnya, Ariel-Luna-Cut Tari-Miyabi- dihujat dengan dahsyat oleh kebanyakan para 'penikmatnya' tadi, secara statistik traffic pengunjung & pengunduh video atau foto 'aksi' mereka tinggi sekali. Begitu tingginya statistik tersebut sehingga mampu mendongkrak Indonesia menjadi peringkat ke-3 dunia sebagai pengakses situs/video porno. Statistik tadi belum termasuk mereka yang beli CD videonya atau dapat gratisan dari handphone teman, loh... he he he... Artinya, di dunia 'nyata' mereka dihujat namun di dunia maya mereka terbukti secara statistik menjadi idola. Kelucuan lainnya adalah, yang ini kok justru masuk akal buat saya. he he he...

Anda bisa membandingkan popularitas Aung San Suu Kyi dengan Lady Gaga saat ini. Atau dengan sesama musisi seangkatan lainnya, Katy Perry, misalnya. Sama-sama wanita, penyanyi, penulis lagu, cantik, seksi, dan sama-sama punya rekor dalam karir musik, sama-sama jadi idola, tapi sikap kontroversial membuat Gaga justru semakin diidolakan.

Sekarang ini menjadi idola masyarakat tampaknya menjadi semakin mudah, bahkan jauh dari mustahil. Menjadi teladan masyarakat justru kebalikannya, menjadi semakin sulit. Idola adalah mereka yang dipuja puji. Seringkali mengundang histeria massa. Keteladanan justru seringkali kebalikannya. Ia bersahaja dan cenderung jauh dari hiruk pikuk namun membekas dalam. Seorang teladan bisa menjadi seorang idola. Tapi seorang idola belum tentu bisa menjadi teladan. Kepopuleran seorang idola atau menjadi idola selalu menggoda. Keteladanan lebih terdengar membosankan. Idola adalah keberanian menjaga atau menghancurkan citra diri. Keteladanan adalah keberanian menjaga hati dan kemurnian.


Minal Aidin Wal Faidzin. Selamat Idul Fitri 1432 H.


Andreas & Petrus 

15 Agustus 2011

Kehancuran Planet Krypton

Sebuah mimpi untuk Indonesiaku

Alkisah, di sebuah planet asing bernama Krypton, seorang ilmuwan tersohor meramalkan kehancuran planetnya berdasarkan riset dan data yang telah lama ia kumpulkan. Jor-El, demikian nama sang ilmuwan, awalnya tidak percaya akan kesimpulan dari serangkaian data dan fakta yang ia dapat dari hasil penelitiannya tersebut, bahwa planet kediamannya akan hancur dalam waktu dekat. Fakta terburuk kemudian adalah bahwa ia satu-satunya orang yang menyadari hal tersebut.
Namun demikian, tragedi sesungguhnya bukanlah kehancuran planet Krypton itu sendiri melainkan jauh sebelumnya ketika bangsa Krypton mulai menghancurkan dirinya sendiri, dan inilah fakta yang didapati oleh sang ilmuwan.
Takdir kehancuran planet Krypton, seperti diimani oleh Jor-El, sebenarnya bisa dihindari jika bangsanya mau keluar dari 'keasyikannya' masing-masing, kembali mawas diri dan bersatu memperbaiki masyarakat & lingkungannya.
Oleh bangsanya, Jor-El adalah ilmuwan yang diakui kredibilitas dan keakuratannya, tapi kali ini mereka memilih berpaling daripadanya.

Gagal meyakinkan bangsanya akan kiamat yang mengancam, Jor-El bergegas membuat sebuah roket untuk membawa istri dan anaknya mengungsi ke planet Bumi. Sayang sekali rencana tersebut tidak sepenuhnya berhasil karena sempitnya waktu yang mereka miliki. Jor-El hanya sempat membuat sebuah roket kecil untuk membawa anaknya, Kal-El. Di penghujung cerita, sebuah roket kecil berisi bayi mungil Kal-El melesat ke luar angkasa, tepat ketika planet Krypton mulai hancur. Dalam kisah berikutnya, bayi mungil Kal-El diceritakan berhasil mendarat selamat di sebuah peternakan milik keluarga Kent, di sebuah kota kecil bernama Smallville, di ujung Bumi. Kelak, Kal-El dikenal dunia sebagai, Superman.

Cerita ini memang hanya terjadi di dunia komik. Tapi bukan mustahil, kejadian di komik tadi menjadi nyata di dunia yang kita diami sekarang. Lompatan manusia ke bulan atau menjelajahi ruang angkasa dimulai dari mimpi dalam buku-buku komik semacam "Flash Gordon". Komputer jenis PC dengan layar flat hingga jenis tablet atau iPad dengan layar sentuhnya, dulu hanya ada di film-film sains-fiksi semacam "Star Trek", tapi sekarang teknologi seperti itu sudah 'nangkring' di rumah bahkan ada dalam genggaman kita.

Gerakan "Go Green" yang terus digalakkan lewat kampanye dan aksi tampaknya masih jauh dari cukup. Manusia terus menghancurkan diri, masyarakat dan alamnya. Mesin perang politik masih jauh lebih beringas dari kesadaran seorang Jor-El.

Satu contoh kecil namun 100% kongkrit terjadi di ibukota negara kita Indonesia, DKI Jakarta. Salah satu masalah krusial yang akhirnya menjadi langganan tahunan adalah banjir. Alih-alih menanganinya dengan serius, pemerintah malah memperbanyak pembangunan mal dan membabat ruang hijau publik yang berakibat semakin berkurangnya daerah resapan air.
Begitupun masalah transportasi di Jakarta. Sebagai perbandingan, 12-25 tahun yang lalu, sarana & prasarana transportasi kota Bangkok masih kalah jauh dengan Jakarta yang saat itu -bahkan- sudah memiliki bandara internasional, Soekarno-Hatta. Kini, Jakarta kalah jauh dengan Bangkok. Satu keunggulan nyata yang dimiliki warga Bangkok sejak dulu adalah, mereka memperlakukan sarana, prasarana, dan pengguna transportasi umum lainnya dengan hormat.

Di skala nasional (atau dunia), perusakan hutan, udara, sungai, tanah, semakin mengkhawatirkan. Program yang paling digemborkan oleh -lagi-lagi pemerintah- adalah "Satu Orang Tanam Satu Pohon", seakan itu senjata pamungkas. Sedangkan berapa meter kubik hutan kita yang ditebang dalam satu hari?

Saya mengamini apa yang diimani oleh Jor-El. Bencana bisa dihindari, diantisipasi, diminimalisir jika manusia mau keluar dari 'keasyikannya' masing-masing, mawas diri dan bersatu memperbaiki masyarakat & lingkungannya. Dengan kenyataan di depan mata, akankah kita memilih berpaling seperti dilakukan bangsa Krypton?

Mengutip pertanyaan bung Marco Kusumawijaya dalam artikelnya; "Mengapa kita memerlukan begitu banyak waktu untuk memutuskan, merencanakan dan apalagi melaksanakan suatu keperluan?"
Jika kita percaya bahwa kita bangsa yang besar, mengapa kita tidak bermimpi BESAR dan bersama-sama mewujudkan mimpi bahwa kita bisa menginspirasi dan menjadi pelopor dunia, bebas dari kecenderungan menghancurkan dirinya? Setidaknya kita tidak ikut-ikutan tren 'self-destruction' apalagi sampai didikte negara lain.


Selamat Ulang Tahun, Indonesiaku.
Happy Independence Day.



Andreas & Petrus