Transfer Janin

Kamis, Mei 6

Temanggung, Jawa tengah, tahun 1989, di sebuah rumah dukun kedatangan tamu. Sepasang suami-istri bersama putrinya, tamu lainnya pasangan muda tapi bukan pengantin baru.

Tamu pertama suami istri gelisah karena putri tunggal kesayangan mereka yang masih sekolah kelas 2 SMU (dulu SMA) hamil 5 bulan di luar nikah. Putrinya bunting karena “disengat” pacarnya yang nggak mau tanggung jawab. Untuk menghapus aib mereka minta pertolongan dukun supaya janin tak berdosa itu digugurkan. Sebuah rencana pembunuhan: aborsi!

Tamu kedua suami isri yang gelisah karena sudah 9 tahun nggak punya anak. Semua upaya medis dan nonmedis telah ditempuh untuk dapatkan keturunan tapi belum berhasil. Setengah putus asa mereka minta tolong sang dukun gimana kek caranya dapat keturunan.

Mbah dukun berpikir sejenak, terus kedua pihak tamu dipertemukan. Si gadis hamil beserta bokap-nyokapnya disebut pihak 1, sedangkan suami-istri yang belum punya anak disebut pihak 2. Mbah dukun punya saran, solusi yang jitu (soal solusi ini benar atau salah, soal bijak atau tidak, saya no comment).

“Gimana kalo bayimu ini jangan digugurkan tapi dipindah ke rahim ibu yang belum punya anak ini?” tanya dukun itu pada si gadis sembari menoleh ke arah pihak 2.. “Hah! Emang bisa Mbah?!” Tanya mereka hampir serempak. “Tentu saja bisa” kata Mbah meyakinkan.

Dalam hidup ini semua serba mungkin.

Sebelum transaksi ajaib itu dilakukan, pihak kesatu dan kedua harus membuat kesepakatan. Kedua pihak menandatangani perjanjian di atas meterai! Bahwa pihak 1 harus ikhlas bayinya transmigrasi ke rahim wanita lain dan biaya kelahiran bayi tersebut ditanggung puhak 1, mereka juga tidak berhak lagi atas bayi itu kelak, tidak boleh klaim apapun nantinya. Harus merahasiakan juga. Takutnya pas keadaan runyam gini bayi disia-siakan, ntar kalo kelak bayi itu jadi presiden atau orang sukses terus ada orang ngaku-ngaku atau klaim atas anak ini.

Pihak kedua harus punya komitmen tegas bahwa mereka harus menyayangi anak ini sebagaimana lazimnya orang tua kandung terhapad anaknya, sekalipun anak ini lahir dari rahimnya tapi bukan hasil dari benih mereka sendiri!

Setelah mereka deal terjadilah sesuatu yang luar biasa! Ajaib! Mbah dukun beraksi… ritual dijalankan. perlahan-lahan perut wanita yang semula kosong mulai membesar, sedangkan perut si gadis mulai kempes. Kempesnya memang tidak langsung total kata mbah dukun, prosesnya kira-kira seminggu perut gadis itu bakalan normal. Baik perut si gadis yang mentransfer janin maupun perut wanita yang menerima transferan janin.



Teknologi macam apa ini? Yang jelas ini gaib. Bersifat empiris, maksudnya empiris adalah berdasarkan pengalaman seseorang, lalu orang itu minta hal ini saya tulis..

“Tujuannya apa ini ditulis”? Saya tanya ke orang itu orang itu menjawab: “Hidup ini lebih dari sekedar yang kita lihat dan kita dengar, yang tidak kelihatan itu jauh lebih luas dan lebih besar. Saya tidak peduli orang percaya atau tidak… bagi saya pribadi ini tidak kalah dengan teknologi canggih manusia bisa pernah mencapai bulan…. Menutut saya transfer janin itu teknologi yang hebat, bisa dijadikan alternatif mengurangi kejahatan terhadap kemanusiaan, yaitu, pembunuhan bayi-bayi yang tak berdosa. Aborsi itu murni tindak pidana pembunuhan berencana”. Kata orang itu ber api-api.

Saya percaya atau tidak dengan orang itu tidaklah penting, tapi saya percaya pada apa yang disebut “gaib” ada batas-batas tertentu yang tak bisa dibahas mengenai gaib ini, justru karena hal yang gaib itu bersifat tidak terbatas.

Hal semacam ini bisa mengundang perdebatan yang nggak bakalan pernah kelar, dan, tentu saja saya malas berdebat soal semacam ini he he he he Percaya tau tidak up to you!

Pesan yang paling menonjol adalah: aborsi itu termasuk pembunuhan


Andreas & Petrus






[+/-] Selengkapnya...

SAHABAT Jala

KOPI PANAS Jala

BEHIND Jala

Foto saya
menjala hati, menjelajah dunia dalam dunia -Andreas & Petrus-

  © Blogger template Techie by Ourblogtemplates.com 2008, edit by PeToe! 2009

Back to TOP