TURING

Minggu, Juni 21

Hidup sebagai orang yang terlahir abnormal, tidak pernah mudah. Abnormal yang saya maksud tidak hanya fisik tapi juga non fisik. Dilihat aneh. Dinilai nyentrik. Diperlakukan 'sekedarnya' dan adakalanya dengan rasa curiga. Singkatnya, ga manusiawi. Mungkin tidak semua orang berlaku seperti itu ataupun tidak selalu diperlakukan seperti itu. Hanya umumnya. Dan itu bisa terjadi hanya karena seseorang dinilai 'tidak normal', di luar kebiasaan, ga masuk definisi 'normal' masyarakat umum.

Ga hanya orang, binatang yang abnormal pun mengalami nasib yang kurang lebih sama. Kalau jaman dulu, orang atau binatang yang 'abnormal' khususnya secara fisik, biasanya masuk sirkus dan jadi tontonan. Kalau jaman sekarang... eh... mungkin masih sama ya, hehehe. Hanya paradigma masyarakatnya yang mungkin berbeda. Karena jaman sekarang, justru makin aneh, 'abnormal', penampilan, tingkah laku, atau gaya hidup seseorang, justru diikuti dan digemari. Bisa jadi, bisa jadi...

Diskriminasi ini juga dialami oleh Alan Turing. Anda tahu dia? Kalau belum tahu, sekelumit kehidupannya (walau beberapa bagian dan tokoh adalah fiktif) bisa anda tonton dalam film nominator Oscar 2015, "The Imitation Game", atau membaca novelnya "Alan Turing; The Enigma", karangan Andrew Hodges. Kalau anda ingin lebih menghargai hidup dan kemerdekaan anda, saya rekomendasikan untuk menonton film (atau baca novelnya) ini. Bukan cuma agar anda tahu sekelumit hidup Alan Turing tapi, apa yang ia telah buat dan alami.

Turing adalah seorang jenius matematika dan mesin berkebangsaan Inggris. Saat itu Perang Dunia II sedang berkecamuk. Uni Eropa (Sekutu) melawan Jerman. Amerika Serikat melawan Jepang. Jerman walaupun melawan banyak negara tapi tidak terkalahkan. Sekutu hampir putus asa dan skeptis. Amerika Serikat kewalahan melawan Jepang. Nasib dunia benar-benar genting.

Jerman tak terkalahkan bukan karena strateginya paling yahud. Bukan karena tentaranya super dan alutsistanya tercanggih. Tapi terutama karena strateginya tidak terbaca ataupun terprediksi. Hal ini karena mereka punya sandi yang menyelubungi strategi mereka. Sandi Enigma. Oleh sekutu, Enigma dinilai mustahil dipecahkan. Konsekwensinya, Jerman mustahil dikalahkan. Nah, di sinilah peran penting seorang Alan Turing yang 'abnormal'. Bagaimana prosesnya dan menegangkannya, silakan tonton filmnya ya. Hehehe...

Singkatnya, Alan Turing yang abnormal (ke-abnormal-an dan perjuangan Turing 'mengantisipasi' ke-abnormal-an dirinya dituturkan cukup kuat di film), berhasil memecahkan Sandi Enigma lewat mesin super ciptaannya. Jadi bisa dikatakan, Turing (dan tim-nya) adalah penentu kemenangan Sekutu atas Jerman. Kemenangan yang mungkin baru bisa diraih ratusan tahun kemudian tanpa mesin super ciptaan Turing. Itu satu. Keduanya adalah mesin ciptaan Turing; merupakan cikal bakal komputer modern saat ini. Smartphone dalam genggaman anda. (FYI, smartphone masa kini memiliki kecepatan proses 10 ribu kali dibanding komputer yang membawa Apollo 11 ke bulan tahun 1969).

Turing memang pahlawan. Jenius dan brilian. Itu 'abnormal' yang positif. Apakah ia punya 'abnormal' yang negatif? Menurut ukuran dan hukum di Inggris pada masa itu, ya. Dan itu membawanya pada kesengsaraan dan kematiannya. Alan Turing adalah seorang homoseksual (atau punya tendensi ke sana). Sialnya, di Inggris pada masa itu, homoseksual adalah sebuah kejahatan. Bayangkan, kejahatan yang melekat sejak lahir! Kejahatan yang ia 'lakukan' bahkan sebelum ia sendiri belum bisa berjalan! Konsekwensinya, ia dipenjara atau 'dirawat'. 2-2nya pilihan yang tidak adil. Tapi ia pilih dirawat. Dampak dari perawatan itu, bisa kita duga, ga enak banget. Turing impoten, kemampuan motorik terganggu dan memudarkan kecemerlangannya. Hingga pada akhirnya ia bunuh diri. Tragis memang.

Ada tokoh fiktif dalam film "The Imitation Game" yang sengaja dimunculkan; Detective Robert Nock. Tokoh ini mewakili kita. Ia sengaja dimunculkan untuk memberikan kita sebuah sudut pandang lain. Sudut pandang orang 'normal'. Bahwasanya seperti halnya kita, orang normal kebanyakan dan bukanlah orang jahat (atau bermaksud jahat) apalagi keji, tapi bisa melakukan hal mengerikan seperti itu kepada Turing (orang 'abnormal'). Kita menghakimi dan menjatuhkan hukuman (stigma) secara tidak adil kepada seseorang atas kesalahan yang bukanlah kesalahannya atau atas sesuatu (masalah) yang seharusnya benar-benar kita kenali lebih dulu. Oleh karenanya kita perlu berkaca dan belajar dari seorang Alan Turing yaitu kejujuran dan obyektifitas.

[+/-] Selengkapnya...

ANGELINE

Jumat, Juni 19

Saya ngga bisa tidur. Benak saya masih terganggu, membayangkan derita yang harus dialami Angeline, bocah perempuan yang masih berusia 8 tahun saat dikabarkan telah meninggal. Angeline diabaikan, tersia-sia, disiksa, dibully jasmani dan rohaninya, dilecehkan secara seksual, dan dibunuh entah secara sengaja atau tidak. Saat ini pelakunya masih diselidiki tapi sudah ada yang disangkakan. Penyelidikannya sudah berjalan sebulan lebih sejak Angeline diberitakan hilang pada 16 Mei 2015. Terlalu lama.

Kasus pelecehan (seksual) terhadap anak-anak, kekerasan terhadap anak, memang masih marak terjadi (dan masih ga jelas serta memuaskan perlakuan hukumnya) di negara ini. Namun apa yang menimpa Angeline, adalah yang paling memilukan saya. Biadab. Penyiksaan yang dialami Angeline mengingatkan saya pada film "Pengkhianatan G30 S/PKI". Sungguh keji.

Kasus Angeline menjadi luka kita semua. Mungkin juga menjadi trauma kita semua. Namun harus menjadi pelajaran buat kita semua. Bahwasanya negeri ini belum aman bagi kebanyakan anak-anak. Bahkan di saat mereka berada di lingkup (yang seharusnya) paling aman sekalipun. Di saat 'oknum' wakil-wakil rakyat minta diperluas dan dipernyaman istananya, lingkup aman & nyaman anak-anak justru makin sempit. Ketika mereka teriak ramai-ramai menuntut dana aspirasi milyaran hingga trilyunan rupiah, toh aspirasi anak-anak (dan rakyat yang mereka wakili) tetap terabaikan. Kalian duduk dan berwenang membuat undang-undang. Apa undang-undang perlindungan hukum bagi anak-anak, sudah kalian perbaiki lagi? Apa kalian 'teriak' supaya pelaku kekerasan termasuk pelecehan (seksual) terhadap anak mendapat hukuman seberat-beratnya? NO!! F**k you all! Sakitnya tuh di sini..

Deddy Corbuzier, lewat akun Youtubenya, menginginkan hukuman mati buat (para) pelaku penyiksaan dan pembunuhan Angeline. Kalaupun mereka dipenjara (seberat-beratnya), setelah bebas, ia tantang untuk menemui dia. Dia berjanji akan memberi pelajaran tentang artinya rasa sakit. Dengan kata lain, ga ada ampun buat pelakunya.

Ange. Ndhuk. Saya yakin kamu sudah bahagia di surga. Dan mungkin kamu ga mau pusingin apa yang sudah menimpa kamu. Kamu cuma ingin supaya ga ada Angeline-Angeline lain di kemudian hari. Tidak apa-apa. Itu memang bukan tugas kamu. Itu tugas kami untuk memastikan tidak ada Angeline lainnya, dan tidak ada pelaku kekerasan dan pelecehan yang selamat. Biarlah kamu tenang di surga.
Selamat jalan, Ange...

[+/-] Selengkapnya...

SAHABAT Jala

KOPI PANAS Jala

BEHIND Jala

Foto saya
menjala hati, menjelajah dunia dalam dunia -Andreas & Petrus-

  © Blogger template Techie by Ourblogtemplates.com 2008, edit by PeToe! 2009

Back to TOP